Selasa, 08 September 2009

Pak Pos, satu Romantisme Nostalgia


Sejenak kita kembali pada masa-masa ketika Internet dan e-mail masih menjadi barang langka yang hanya dapat digunakan oleh segelintir kalangan. Suatu waktu saat komunikasi tertulis antar manusia yang terpisah jarak hanya mungkin dilakukan melalui Telex, Radiogram atau lewat Surat.

Maka sepucuk surat, lembaran berita yang menghubungkan satu dengan yang lain. Tidak saja memiliki nilai historis karena berjalan seiring perkembangan peradaban manusia juga memiliki berjuta makna emosional mengingat sifatnya yang sangat pribadi. Tak lebih dan tak kurang, mungkin tergambar seperti dalam ilham atas sebuah lagu yang dinyanyikan Vina Panduwinata.

Maka, satu profesi yang sangat berperan adalah jasa pengantar surat. Pak Pos, demikian kita biasa menyebut seseorang dengan profesi ini. Suatu profesi yang telah ada sejak manusia mengenal budaya tulis menulis dan menerapkannya sebagai sarana komunikasi. Kita semua bahkan nyaris tak ada yang tak pernah berhubungan dengan jasa profesi satu ini.

Bahkan Hollywood-pun sampai terinspirasi membuat beberapa film tentang Pak Pos, mulai dari The Young Riders (dibintangi Stephen Baldwin, mengisahkan Pony Express, jasa pengantar surat di Sweetwater, Wyoming Territory pada tahun 1860-an) hingga The Postman (dibintangi Kevin Costner yang menceritakan kisah pengantar surat dari era ‘masa depan’ pasca kehancuran peradaban manusia akibat suatu perang besar dengan setting tahun 2013). Suatu gambaran dramatik tentang sebuah jalinan ketangguhan, dedikasi dan etos pengabdian dari profesi tersebut.

Pak Pos, sudah menjadi bagian penting bagi kehidupan. Mereka harus mampu mencapai setiap pelosok wilayah untuk memberikan layanan kepada segenap pengguna jasanya. Baik dengan sarana yang paling primitif yakni berjalan kaki, bersepeda, hingga kini dengan motor dan bahkan pesawat terbang. Kehadiran surat-menyurat yang lantas menjadi massal membuat Pak Pos nyaris tak boleh berlibur. Tujuh hari seminggu layanan antar surat harus dilakukan. Melintas lembah dan gunung, menerjang terik hingga derasnya hujan dan badai. Termasuk mengarungi lautan dan benua. Sepucuk surat akan berkelana dari pengirimnyahingga sampai ke tangan tujuan sang penerima.

Nah, kini setelah majunya penggunaan Internet..berkirim warta dapat dilakukan secara online dan real time. Cepat dan efisien, hadirnya bermacam jejaring sosial yang menghubungkan manusia dari berbagai belahan bumi belum lagi hadirnya fasilitas ponsel yang semakin canggih membuat wajah Pak Pos tradisional tadi mau tidak mau harus berubah. Teknologi menuntut penyesuaian akan tata cara dan budaya baru ini. Surat, kini lebih menjadi benda yang bersifat dokumentatif dan administratif, Nilai-nilai romantismenya tergantikan dengan kebutuhan praktis pragmatis manusia modern. Jasa pengantaran menjadi varian jasa kurir yang sangat formal dan rigid. Maka, boleh jadi sekarang nyaris tak terdengar lagi dering bel sepeda di teras rumah yang senantiasa membawa sebentuk keceriaan itu. Dan satu lagu kanak-kanak yang dulu cukup populer, mungkin hanya akan menjadi bagian dari nostalgia masa lalu kita, “Aku tukang pos, rajin sekali.. Surat kuantar naik sepeda....Siapa saja, aku datangi. Tidak kupilih, miskin dan kaya…. Kring.. Kring.. Pos..”. (Sonny T Atmosentono © 2009).

1 komentar:

si mengatakan...

Halo mas SOnny, salam kenal. patung pak posnya di mana nich mas? ijin share fotonya ya mas